PARIGI, parimoaktual.com – Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Faradiba Zaenong, mendorong pemerintah daerah dan pelaku usaha membangun strategi bersama guna memusatkan aktivitas ekspor komoditas melalui pelabuhan di Sulawesi Tengah, khususnya Pelabuhan Pantoloan.
Gagasan ini bertujuan membangun ekosistem ekspor lokal yang kuat, bukan sekadar meningkatkan angka produksi.
Sulawesi Tengah memiliki basis komoditas yang melimpah, sehingga rantai nilai seperti pengumpulan, pergudangan, logistik, hingga jasa kepelabuhanan perlu berlangsung di dalam daerah.
“Komoditasnya dari Sulteng, maka ekosistem ekspornya juga harus tumbuh di sini dan Pantoloan harus menjadi pintu utamanya,” ujar Faradiba, Kamis (8/10/2026).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor Sulawesi Tengah sepanjang tahun 2025 menembus angka US$ 22,31 miliar.
Pada periode Januari hingga November 2025, tercatat US$ 738,18 juta dari total ekspor US$ 19,97 miliar masih dikirim melalui pelabuhan di provinsi lain.
Faradiba menjelaskan, pengiriman komoditas melalui daerah lain tersebut merupakan indikator adanya rantai aktivitas ekonomi ekspor yang tidak dinikmati oleh Sulawesi Tengah.
Ia menyarankan pemerintah menetapkan target bertahap, mulai dari menarik kembali 10 persen aktivitas ekspor atau setara Rp1,3 triliun.
Untuk mencapai target tersebut, pemerintah daerah perlu memetakan komoditas, kesiapan pelabuhan, pelaku usaha, serta kebutuhan infrastruktur.
Konsentrasi aktivitas ekspor di dalam daerah secara otomatis akan memicu pertumbuhan investasi baru pada sektor pendukung, seperti cold storage, gudang, depo kontainer, perbankan, hingga industri pengolahan.
“Kita harus menciptakan ekosistem yang rasional bagi swasta untuk membangun fasilitas pendukung. Jangan hanya komoditasnya yang keluar, tetapi nilai ekonominya juga harus lebih banyak menetap di Sulteng,” tegas Faradiba.***












