PARIMO, parimoaktual.com – Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) Faradiba Zaenong, menegaskan pelepasan ekspor perdana durian beku sebanyak 27 ton dengan nilai Rp2,1 miliar menjadi tonggak baru kebangkitan ekonomi daerah.
Komoditas unggulan tersebut resmi dikirim ke Tiongkok sebagai pasar tujuan ekspor.
Menurut Faradiba, capaian ini bukan sekadar seremoni, tetapi bukti konkret bahwa durian asal Parimo, Sulawesi Tengah, memiliki kualitas dan daya saing di pasar global.
Ia menyebut keberhasilan ini sebagai langkah awal membangun rantai ekonomi desa berbasis komoditas unggulan.
“Kita melepas ekspor perdana 27 ton durian beku ke Tiongkok dengan nilai Rp2,1 miliar. Ini bukan hanya seremoni, tetapi sejarah baru yang menegaskan durian Parimo mampu menembus pasar internasional,” tegas Ketua KADIN Parimo saat memberikan sambutannya. Kamis, (28/02/2026),
Ia menjelaskan, KADIN Parimo akan mendorong model pengembangan berbasis desa sebagai strategi memperluas produksi dan menjaga keberlanjutan pasokan.
Setiap desa ditargetkan memiliki minimal 10 hektare lahan percontohan yang tersebar di 12 kabupaten se-Sulawesi Tengah. Langkah ini diharapkan mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berangkat dari desa.
Sejalan dengan tagline Bupati dan Wakil Bupati tentang gerakan desa membangun kemandirian, KADIN memulai penguatan ekonomi dari komoditas durian.
Durian tetap menjadi komoditas utama tanpa menutup peluang petani menanam tanaman lain.
Pola ini dinilai mampu menjaga stabilitas pendapatan petani setiap tiga bulan dan memastikan arus kas tetap terjaga.
Faradiba Zaenong juga menyampaikan, Sulawesi Tengah memiliki sekitar 1.000 desa. Jika setiap desa mengelola minimal 5 hektare lahan durian, maka akan terbentuk 5.000 hektare kebun dengan potensi produksi rata-rata 50.000 ton per tahun.
Angka tersebut, katanya, belum mencapai tiga persen dari total kebutuhan pasar Tiongkok, sehingga peluang ekspor masih sangat terbuka.
“Kami pastikan pasar tersedia selama standar kualitas terpenuhi. Bahkan jika petani masih ragu, KADIN siap menjadi pembeli. Ekspor perdana hari ini membuktikan kita mampu,” ujarnya.
Ia menambahkan, peran KADIN jelas yakni membuka akses pasar serta menghadirkan arus investasi dari luar negeri ke Parimo dan Sulawesi Tengah.
Ekspor ini diyakini akan menggerakkan ekonomi desa, mulai dari petani, UMKM, hingga pengelola packing house. Pada musim panen tahun ini, KADIN menargetkan devisa sektor durian menembus Rp3 triliun untuk Sulawesi Tengah.
Dalam kesempatan tersebut, Faradiba Zaenong juga menyampaikan apresiasi kepada PT Silvia Amirta Jaya Ibu Nima de Ayu Ningsi atas peran aktifnya dalam mendorong ekspor perdana tersebut.
Ia menyebut kepemimpinan yang visioner dan keberanian dalam menembus pasar ekspor menjadi contoh bagi pelaku usaha lainnya di daerah.
Ia meminta dukungan Pemerintah Provinsi dan Pemda Parimo untuk segera menghadirkan regulasi komprehensif dalam membangun ekosistem durian di Sulawesi Tengah.
Regulasi itu, katanya, harus mengatur rantai pasok, tata niaga, standar mutu, kemitraan petani dan UMKM, hingga kepastian investasi agar pertumbuhan sektor ini berjalan terarah dan berkelanjutan.
“Dengan regulasi yang kuat, petani terlindungi, UMKM tumbuh, investor merasa aman, dan Pendapatan Asli Daerah akan meningkat signifikan,” tandasnya.
Ketua KADIN Parimo Faradiba Zaenong memohon kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Tengah untuk secara resmi melepas ekspor perdana durian beku ke Tiongkok, seraya berharap langkah tersebut membawa keberkahan dan kemajuan bagi daerah. (long)











