Kembali Beroperasi, Dua Alat Berat Dikabarkan Masuk Lokasi PETI Sipayo

Foto : Dua unit alat berat jenis ekskavator. (Istimewa)

PARIGI, parimoaktual.comAktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Desa Sipayo, Kecamatan Sidoan, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), di duga kembali beroperasi.

Berdasarkan informasi yang dihimpun redaksi dari sumber terpercaya, sebanyak dua unit alat berat jenis ekskavator telah masuk ke area lokasi tambang sejak Kamis (13/8/2026). Alat berat tersebut diduga beroperasi di bawah kendali seorang pemodal berinisial A.

“Dua unit alat berat naik ke lokasi tambang di wilayah Sipayo-Malanggo pada tanggal 13 Agustus,” ungkap sumber yang meminta identitasnya rahasiakan.

Sumber menjelaskan bahwa kegiatan penambangan liar ini sempat terhenti total beberapa waktu lalu akibat menerjangnya banjir.

Luapan air sungai saat itu menyapu sejumlah peralatan tambang, termasuk mesin alkon penyedot air.

Namun, pascabanjir dan kondisi lokasi dinilai memungkinkan, para penambang mendatangkan dua unit ekskavator untuk melanjutkan pengerukan emas.

Kembalinya aktivitas tambang ilegal yang menggunakan alat berat ini memicu kekhawatiran mendalam bagi warga pemukiman sekitar.

Masyarakat mencemaskan pengerukan di daerah aliran sungai (DAS) akan memperparah kerusakan lingkungan, memicu kekeruhan air, hingga menyebabkan sedimentasi hebat.

Kondisi tersebut memperbesar risiko banjir susulan yang membawa material lumpur dan batuan saat curah hujan tinggi, mengingat area tersebut memiliki riwayat diterjang banjir.

Merespons potensi ancaman bencana dan kerusakan alam ini, warga mendesak Pemda Parimo bersama Aparat Penegak Hukum (APH) untuk segera meninjau langsung lokasi kejadian.

“Kami berharap pemerintah daerah segera mengecek lokasi sebelum aktivitas tambang emas ilegal ini makin meluas. Kepada APH, kami meminta tindakan tegas untuk menangkap semua pihak yang terlibat, terutama para pemodal,” tegas sumber tersebut.

Ia menambahkan, penertiban dan penindakan hukum sangat mendesak demi melindungi warga di kawasan hilir yang paling rentan terdampak bencana.

“Kami sangat khawatir jika alat berat terus beroperasi. Ketika hujan deras turun, dampaknya langsung merusak aliran sungai dan mengancam keselamatan masyarakat di bagian bawah,” pungkasnya. ***

Penulis: TimEditor: Thilonk
Exit mobile version