Wayan Astrana: Pasokan Durian PT Pondok Durian Sulawesi Masih Ditopang Tiga Kabupaten

Owner Pecking House (PH) PT Pondok Durian Sulawesi Parigi Moutong (Parimo), Wayan Astrana (Yan Dolar). (Foto : ddnk)

PARIMO, parimoaktual.com Owner Pecking House (PH) PT Pondok Durian Sulawesi Parigi Moutong (Parimo), Wayan Astrana (Yan Dolar), mengungkapkan pasokan bahan baku durian untuk kebutuhan produksi perusahaan saat ini masih ditopang dari tiga kabupaten, yakni Kabupaten Sigi, Kabupaten Poso, dan Parimo.

Menurutnya, tiga daerah tersebut saat ini menjadi sumber utama penyerapan bahan baku untuk memenuhi kebutuhan produksi durian yang diproses di pabrik.

“Untuk sementara ini, bahan baku masih kita dapat dari tiga kabupaten, yaitu Sigi, Poso, dan Parimo. Ketiganya menjadi penopang utama pasokan durian ke pabrik,” kata Wayan, saat di temui usai peresmian Pecking House (PH) PT. Pondok Durian Sulawesi di Desa Masari Kecamatan Parigi Selatan, Parigi Moutong (Parimo). Jum’at, (27/03/2026).

Ia menjelaskan, kapasitas bahan baku yang masuk ke pabrik setiap hari saat ini mencapai sekitar 20 ton.

Jumlah tersebut dinilai cukup baik karena musim durian tahun ini berlangsung lebih panjang dibanding musim sebelumnya akibat pengaruh iklim.

“Musim tahun ini berbeda, buah tidak panen serentak tetapi bertahap. Karena itu pasokan masih terus berjalan dan kemungkinan bertahan lebih lama,” ujarnya.

Setiap buah durian yang masuk ke pabrik, lanjut dia, terlebih dahulu melalui proses grading atau quality control (QC) untuk menentukan klasifikasi kualitas.

Durian dibagi ke dalam empat kategori, yakni grade A, B, C, dan D, dengan nilai jual berbeda sesuai mutu buah.

Untuk grade A, durian harus memiliki berat minimal 2,2 kilogram hingga 5 kilogram, berbentuk sempurna, serta memiliki minimal tiga jalur buah.

“Grade A itu standar ekspor terbaik. Beratnya minimal 2,2 kilogram, bentuknya sempurna, dan jalurnya minimal tiga,” jelasnya.

Sementara grade B diperuntukkan bagi buah dengan berat di bawah 2,2 kilogram atau bentuk yang kurang sempurna, misalnya hanya memiliki dua jalur.

Adapun grade C merupakan buah yang memiliki cacat fisik seperti bekas benturan, bocor, atau terserang ulat. Sedangkan grade D umumnya berasal dari buah gagal panen akibat salah petik atau belum cukup matang.

“Grade D masih bisa diolah, tetapi biasanya hanya untuk pasta, bukan produk utuh, sehingga nilainya lebih rendah,” tambahnya.

Sebelum memenuhi pasar ekspor, hasil produksi PT Pondok Durian Sulawesi lebih dulu dipasarkan ke pasar lokal. Salah satu tujuan distribusi lokal saat ini adalah toko Kebun Buah di Jakarta.

Dalam satu musim panen, volume pemasaran durian diperkirakan mencapai 800 hingga 1.000 ton.

Selain pasar lokal, pengiriman juga dilakukan ke luar daerah seperti Jakarta dan Manado.

Wayan menyebut, pada dua musim sebelumnya pengiriman ke luar daerah mampu mencapai 500 hingga 600 ton per musim.

Namun musim tahun ini diprediksi lebih panjang karena panen diperkirakan berlangsung hingga Agustus.

“Kalau tahun lalu panen biasanya selesai April atau Mei, tahun ini kemungkinan masih tersedia sampai Agustus,” katanya.

Khusus pasokan dari Parimo, saat ini penyerapan baru berkisar 6 hingga 7 ton per hari karena musim panen di daerah itu baru mulai berlangsung.

Ia menegaskan, bahan baku yang dibeli perusahaan seluruhnya berupa buah segar utuh, bukan hasil olahan.

Terkait ekspor, PT Pondok Durian Sulawesi saat ini telah menyiapkan dua kontainer untuk pengiriman ke China.

“Satu kontainer akan lebih dulu diberangkatkan karena jadwal kapal tanggal 31. Hari ini juga sudah dilakukan stuffing untuk ekspor ke China,” ungkapnya.

Satu kontainer berukuran 40 feet mampu memuat sekitar 27 ton durian dengan nilai ekonomi diperkirakan mencapai Rp3 miliar.

Wayan juga mengimbau petani durian di Sulawesi Tengah agar meningkatkan produksi karena pasar ekspor kini terbuka luas.

“Sekarang tantangannya bukan pasar, tetapi bahan baku. Permintaan ada, tetapi pasokan buah masih terbatas,” tegasnya.

Secara normal, satu pabrik membutuhkan minimal 50 ton bahan baku per hari agar dapat beroperasi optimal.

Saat ini terdapat sekitar 30 packing house di Sulawesi, sehingga total kebutuhan bahan baku diperkirakan mencapai 1.500 ton per hari.

Namun pasokan yang tersedia masih jauh di bawah kebutuhan tersebut.

“Kalau satu pabrik butuh 50 ton per hari, sementara rata-rata yang tersedia baru sekitar 10 ton, berarti masih kurang 40 ton setiap hari,” tutupnya. (long)

Exit mobile version