PARIGI, parimoaktual.com – Kepala Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran (Satpol PP-Damkar) Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Nur Srikandi Puja, mengeluhkan tidak berfungsinya jaringan hydrant di sejumlah titik di seputaran Kota Parigi.
Kondisi tersebut dinilai menyulitkan petugas dalam upaya penanganan kebakaran, khususnya di wilayah perkotaan.
Keluhan itu disampaikan Nur Srikandi Puja dalam rapat koordinasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD) Pemda Parimo terkait kesiapsiagaan dan antisipasi potensi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), yang digelar di Ruang Crisis Center Pusdalops BPBD Parimo.
Dalam forum tersebut, ia menegaskan bahwa keberadaan hydrant sangat vital sebagai sumber air cepat bagi petugas pemadam kebakaran.
“Permasalahan hydrant ini sudah sering saya laporkan ke dinas terkait, tetapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut,” ujar Nur Srikandi Puja dalam rapat koordinasi, Selasa, (27/12/2026).
Ia menjelaskan, berdasarkan data yang diterimanya, sejumlah hydrant yang terpasang di seputaran Kota Parigi tidak berfungsi dengan baik.
Kondisi itu dinilai tidak mendukung efektivitas penanganan kebakaran, terutama saat terjadi kebakaran di kawasan padat penduduk.
Akibat banyaknya hydrant yang tidak berfungsi, personel pemadam kebakaran terpaksa mengambil air dari sungai untuk memadamkan api.
Menurutnya, langkah tersebut sangat tidak efektif karena memerlukan waktu lebih lama dan menghambat kecepatan penanganan di lapangan, khususnya di wilayah Kota Parigi.
“Kalau kita ingin bersinergi, mari sama-sama memperbaiki apa yang sudah ada,” tegasnya.
Selain persoalan hydrant, Puja juga menyoroti keterbatasan sarana dan prasarana dalam upaya antisipasi serta penanganan Karhutla di wilayah Parimo.
Ia mengungkapkan, pihaknya masih terkendala minimnya peralatan pendukung yang mampu menjangkau wilayah pegunungan.
Meski memiliki satu unit kendaraan pemadam roda tiga, ia menilai armada tersebut belum efektif untuk penanganan kebakaran hutan, baik dari sisi fungsi maupun kapasitas penampungan air.
“Saat ini kami hanya memiliki posko di beberapa kecamatan dan di mako utama yang dapat dihubungi masyarakat melalui layanan call center,” katanya.
Ia menambahkan, dengan keterbatasan armada dan personel di setiap pos, penanganan Karhutla hanya dapat dilakukan sesuai dengan kemampuan jangkauan yang ada. (galih)
