PARIMO, parimoaktual.com – Wakil Bupati (Wabup) Parigi Moutong (Parimo), Abdul Sahid, mengungkap temuan terkait penyebab banjir bandang yang melanda wilayahnya baru-baru ini.
Ia menegaskan bahwa pembukaan lahan untuk perkebunan durian turut memicu terjadinya bencana banjir, sekaligus merespons pandangan yang kerap hanya menyalahkan aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (Peti).
Penegasan ini Abdul Sahid sampaikan untuk menjawab sentilan Anggota DPRD Parimo, Husen Mardjengi mengenai status aktivitas Peti di Parimo, dalam agenda rapat paripurna DPRD Parimo. Senin, (31/8/2026).
Sebagai informasi, curah hujan berintensitas tinggi sebelumnya terjadinya bencana banjir di wilayah Parimo.
Banjir bandang menyapu Desa Avolua di Kecamatan Parigi Utara pada Rabu (26/8/2026) dini hari, disusul banjir di empat desa wilayah Kecamatan Kasimbar pada Jumat (28/8/2026).
Menyikapi Banjir tersebut, Abdul Sahid mengaku langsung menelusuri dugaan adanya aktivitas pertambangan di lokasi-lokasi terdampak.
“Pasca banjir di Desa Avolua dan Desa Peningka, saya sudah pertanyakan apakah ada aktivitas pertambangan di wilayah itu? Katanya tidak ada,” jelas Abdul Sahid dalam rapat paripurna.
Meski menuding aktivitas perkebunan durian sebagai pemicu banjir, Abdul Sahid belum menguraikan secara spesifik mengenai lokasi persis maupun total luas lahan yang digusur.
Upaya konfirmasi wartawan mengenai rincian tersebut melalui pesan WhatsApp pun belum mendapat tanggapan hingga berita ini ditayangkan.
Berdasarkan penelusurannya, aktivitas yang ia temukan di wilayah terdampak justru berupa penggusuran lahan untuk kepentingan kebun durian.
Aktivitas pembukaan lahan inilah yang ia nilai merusak kondisi daya dukung lingkungan setempat.
“Yang ada hanya penggusuran lahan durian. Sehingga itu juga mengakibatkan terjadinya banjir karena kontur tanah untuk menahan adanya hujan deras tidak mampu lagi menahan. Akibatnya banjir terjadi di beberapa daerah yang kita lihat saat ini,” pungkasnya.











