PARIGI, parimoaktual.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) memprioritaskan penyediaan air bersih dan penanganan normalisasi sungai pascabencana banjir yang menerjang empat desa di Kecamatan Kasimbar, Sulawesi Tengah.
Tim BPBD Parimo langsung memetakan seluruh kebutuhan warga terdampak di lapangan sekaligus berkoordinasi intensif bersama pihak Balai Wilayah Sungai (BWS) untuk mempercepat proses pengerjaan fisik di aliran sungai.
Kepala BPBD Parimo, Moh Rivai, menegaskan bahwa jajarannya terus bergerak menyisir lokasi bencana guna memvalidasi data dan memastikan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.
“Hingga saat ini tidak ada warga yang mengungsi. Khusus untuk warga di Desa Peningka, kebutuhan yang sangat mendesak saat ini adalah pasokan air bersih serta normalisasi aliran sungai,” ujar Kepala BPBD Parimo, Moh Rivai. Jumat (28/8/2026) malam.
Rivai menjelaskan, pihak BWS telah memobilisasi sejumlah alat berat ke lokasi terdampak untuk memulai pengerjaan pengerukan dan normalisasi sungai.
Guna mengatasi krisis air bersih, BPBD Parimo bersama pemerintah desa setempat mendata rumah-rumah warga yang terdampak langsung serta menyiapkan tandon penampungan air darurat.
Selain Desa Peningka, kebutuhan penanganan sungai juga mendesak di Desa Labuan Donggulu. BPBD Parimo merencanakan pergeseran alat berat dari Desa Avolua, Kecamatan Parigi Utara, menuju Kecamatan Kasimbar untuk mendukung percepatan pekerjaan. Sementara itu, analisis kondisi sungai di Desa Laemanta Induk juga terus berjalan.
Kondisi krusial juga terjadi di Desa Laemanta Utara akibat jebolnya tanggul sungai yang sebelumnya sempat mendapatkan penanganan.
Mengenai kendala ini, BPBD Parimo tengah mengusulkan pemasangan material penahan tebing (geobag) kepada Balai terkait.
Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Parimo, sebanyak 188 Kepala Keluarga (KK) mencakup 34 KK di Desa Laemanta, 81 KK di Desa Laemanta Utara, dan 73 KK di Desa Labuan Donggulu tercatat terdampak banjir. Adapun pendataan jumlah KK terdampak di Desa Peningka masih terus berlangsung.
Sementara itu, arus lalu lintas di jalur Trans Sulawesi yang sempat terhambat kini mulai mengalir normal kembali usai pemasangan jembatan darurat (Bailey).
Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) juga menyiagakan sekitar empat hingga lima unit alat berat untuk membersihkan sisa-sisa material longsor di sepanjang jalur tersebut.
“Akses jalan Trans Sulawesi kini mulai terurai dan dapat dilalui kendaraan setelah jembatan darurat terpasang, sementara alat berat terus membersihkan material sisa longsor di beberapa titik lokasi,” pungkas Rivai.***
