Memprihatinkan, Siswa SDN Kuala Bugis Belajar di Luar Kelas Akibat Kondisi Gedung

oleh
oleh
Kondisi SD Negeri Kuala Bugis yang sangat memprihatinkan. (Foto: Istimewa)

PARIMO, parimoaktual.com Akibat kondisi gedung yang mudah roboh, para siswa SD Negeri Kuala Bugis di Desa Bukit Makmur, Kecamatan Bolano Lambunu, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah, terpaksa belajar di luar ruangan kelas.

Bahkan, kondisi kerusakan gedung di SD Negeri Kuala Bugis tersebut sudah semakin parah. Sehingga, plafon ruangan kelas II terpaksa dirobohkan karena sebagiannya terlihat nyaris ambruk. Kondisi itu pun hampir sama dengan ruang kelas lainnya.

Wajar jika pihak sekolah terpaksa memutuskan untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar di luar ruangan kelas.

Menurut Kepala SD Negeri Kuala Bugis, Fathur Rohman, keputusan melaksanakan kegiatan belajar mengajar di luar ruangan kelas tersebut, karena pihaknya khawatir dapat mencelakakan siswa dan guru.

“Jika tetap melaksanakan belajar mengajar di ruangan kelas, siswa dan guru bisa celaka. Makanya plafon ruangan kelas yang akan jatuh, kami sengaja robohkan seperti plafon di ruang kelas II,” ujar Fathur melalui telepon selulernya, Ahad, 20 Juli 2025.

Ia mengaku telah berulang kali mengusulkan perbaikan kerusakan infrastruktur melalui bantuan Dana Alokasi Khusus (DAK). Namun, hal tersebut justru harus terkendala karena jumlah siswa di SD Negeri Kuala Bugis yang hanya sebanyak 26 orang.

“Sebab, syarat untuk mendapatkan bantuan DAK dari pemerintah pusat, jumlah siswa minimal 40 hingga 60 orang,” katanya.

Ia juga mengaku semangat belajar para siswa di SD Negeri Kuala Bugis sangat tinggi meskipun kondisi gedung sekolah memprihatinkan.

Kondisi tersebut, kata dia, juga diperparah dengan akses menuju SD Negeri Kuala Bugis yang sangat tidak mendukung. Untuk sampai di sekolah, para siswanya harus menyeberangi sungai hingga 10 kali akibat tidak ada jembatan permanen.

Sedangkan jembatan darurat yang dibangun oleh warga sering kali hanyut ketika terjadi banjir di sungai.

“Setiap hari, ketika berangkat ke sekolah, para siswa kami harus menyeberangi sungai 10 kali agar sampai ke sekolah. Para guru pun takut menyeberangi sungai saat musim hujan tiba,” ungkap Fathur.

Selain gedung dan akses menuju SD Negeri Kuala Bugis, kondisi ketersediaan guru yang sangat terbatas juga memprihatinkan. Hanya ada empat guru aktif yang mengajar di SD Negeri Kuala Bugis. Bahkan, dirinya juga harus merangkap sebagai operator sekolah.

“Satu-satunya guru berstatus ASN di SD Negeri Kuala Bugis hanya saya sendiri. Kalau guru PPPK aktif hanya satu orang. Sedangkan dua lainnya masih menunggu SK penempatan,” imbuhnya.

Dikorfimasi terkait hal itu, Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Parimo, Sunarti mengaku pihaknya akan mengusulkan rehabilitasi SD Negeri Kuala Bugis melalui Dana Alokasi Umum (DAU) di tahun anggaran 2026.

Ia bahkan mengaku sudah tiga tahun pihaknya mengusulkan rehabilitasi SD Negeri Kuala Bugis. Namun, sistem verifikasi pusat mensyaratkan sekolah yang bisa mendapatkan bantuan minimal memiliki 60 siswa.

“Makanya usulan untuk mendapatkan bantuan DAK selalu gagal,” ujar Sunarti di Parigi, Senin, 21 Juli 2025.

Menurutnya, pendekatan berdasarkan jumlah siswa tidak relevan dalam konteks pendidikan di daerah terpencil. Dua orang siswa pun tetap mempunyai hak untuk belajar di tempat yang layak. Maka, satu-satunya solusi adalah melalui bantuan DAU, karena kebijakan daerah bisa lebih fleksibel.

“Keterbatasan anggaran daerah hanya memungkinkan rehabilitasi satu atau dua sekolah setiap tahun, dengan prioritas pada kondisi kerusakan berat,” katanya.

Ia menilai, SDN Kuala Bugis berpotensi menjadi prioritas tunggal untuk mendapatkan rehabilitasi melalui DAU di 2026.

Selain itu, pihaknya akan menyampaikan usulan rehabilitasi SDN Kuala Bugis ke DPRD Parimo agar dapat dikawal dalam proses pembahasan anggaran 2026.

Ia bahkan menolak wacana pemindahan siswa SD Negeri Kuala Bugis ke sekolah lain yang jaraknya lebih jauh. Sebab, berisiko meningkatkan angka putus sekolah.

“Memindahkan siswa SD Negeri Kuala Bugis bukan solusi. Solusinya memperbaiki sekolah itu, agar proses belajar bisa tetap berjalan,” tegas Sunarti. (abt)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *